Pernah pada suatu hari saat idul fitri. Si anak bungsu Ahmad,
melihat seekor kelinci putih yang badannya gemuk, telinganya panjang, bulunya
tipis dan halus, lucu serta menggemaskan (pokoknya gitu lah… hehe), dan apa
yang terjadi? Si bungsu meminta untuk membawa pulang kelinci tersebut. Sambil menangis
dan tetap ngotot ingin memiliki kelinci tersebut, akhirnya si pemilik kelinci memberikannya
untuk si bungsu yang imut dan menggemaskan itu (sama kayak kelincinya ya… wkwk
imut dan menggemaskan).
Memang, kebersamaan adalah hal terindah yg dimiliki setiap
insan.
Sungguh kemurahan Allah sangat terasa ketika kita bisa
bersyukur dalam keadaan apapun.
Begitu juga kebersamaan yang keluarga kecil ini rasakan, tak
lain adalah keluarga Ahmad.
Ada dua tempat yang menjdi favorit mereka, PAGGORA dan
warung makan di salah satu gang.
Setiap pulang dari rumah saudara, mereka selalu menyempatkan
diri untuk mengunjungi tempat ini. Tempat yang sederhana namun disinilah setiap
kenangan itu terjadi.
Pada siang hari yang terik, dengan membonceng istri yang
memangku si buah hati dan memboncengnya si buah hati yang lain di depan mereka
mampir ke tempat wisata PAGGORA. Tempat yang sangat rindang dan sejuk, banyak
orang yang datang ke tempat ini apalagi waktu hari raya Idul Fitri.
Memang tempat ini dulunya sangat sejuk dan masih banyak
pohon, tapi sekarang pohon-pohon sudah ditebang dan berganti dengan area
permainan yang tujuannya untuk menarik wisatawan.
Setelah membayar tiket untuk 3 orang (2 dewasa dan 1 anak)
mereka masuk ke dalam tempat wisata dengan penuh syukur karena masih bisa
melewati waktu bersama di tempat yang sederhana. Mereka mulai berjalan
menyusuri setiap tempat yang
tersembunyi, kemudian duduk di samping kolam ikan yang juga merupakan tempat
area perahu kecil berlayar. Sembari menikmati ikan dan perahu yang saling adu
kecepatan, mereka membuka bungkus makanan yang dibawa dari rumah saudara
mereka, kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang pada sore hari
sekitaran pukul 4 sore, naah ada satu warung kecil yang menjadi tempat favorit
mereka, entahlah apa istimewanya warung ini, kecil, sempit, dengan menu soto
dan es teh andalannya. Setelah selesai makan barulahlah ahmad melanjutkan
mengayuh sepedanya untuk sampai dirumah dengan rasa capek, pegal dan lelah
(mungkin). Yaa mereka tetap bersyukur bisa berkunjung meski dengan jarak dan
transportasi yang seadanya…
Kebahagiaan yang berawal dari
lantunan syukur setiap keadaan lah yang membuat senyum itu terlukis indah serta
rasa qonaah yang tinggi yang membuat setiap jalan hidup terasa begitu berarti. yaa dialah Ahmad, ayahku. Dengan penuh syukur aku rasakan setiap kebersamaan
kita, meski waktu telah menggantikan dirimu menjadi kenangan yang berharga, semoga engkau bisa mendapatkan JannahNya
aamiin...
